Iman dan Kuffur Menurut Pandangan Aliran Ilmu Kalam

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Mu’tazilah

Mu’tazilah berarti “memisahkan diri”. Nama ini pada mulanya di berikan oleh orang di luar mutazilah karena tokoh pendirinya, Washil bin Atha’, tidak sependapat dengan gurunya, Hasana al-Bashri.

Meskipun nama tersebut semula muncul dari kalangan mu’tazilah, namun pada perkembangan berikutnya, secara diam-diam pengikut mu’tazilah menyetujui dan menggunakan nama tersebut sabagai nama sebuah aliran theologi mereka. Namun, pengertian memisahkan diri bagi mereka tidak sama dengan pengertian yang diberikan oleh non-Mu’tazili. Bagi mereka, Mu’tazilah berarti memisahkan atau menjauhkan diri dari yang salah; sebagai suatu tindakan terbaik. Untuk mendukung maksud dan pengertian tersebut mereka mengemukakan dalil al-Qur’an yang terjemahannya :

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka secara baik”(Q.S. al-Muzzammil : 10)

Selain nama mu’tazilah, mazhab ini dikenal pula dengan sebutan Ashhab al-‘Adl wa al-Tauhid atau Ahl al-‘Adl wa al Tauhid, al-Qadariah, al-Adl, al-Muattilah, dan Kaum Rasionalis Islam.

1.      Sejarah Timbulnya Mu’tazilah

Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah). Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis.

2.      Golongan-golongan Mu’tazilah.

Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologis yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan, mereka banyak memakai istilah akal hingga mereka mendapat nama “kaum rasionalis Islam”.

Sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution bahwa untuk mengetahui asal-usul nama Mu’tazilah sejatinya memang sulit. Berbagai pendapat diajukan para ahli, tetapi belum ada kata sepakat antara mereka. Yang jelas ialah bahwa nama Mu’tazilah sebagai designatie bagi aliran bagi aliran teologi rasional dan liberal dalam Islam timbul sesudah peristiwa Wasil Ibn ‘Ata’ dengan Hasan al-Basri di Basrah dan bahwa lama sebelum terjadinya peristiwa Basrah tsb telah terdapat kata-kata i’tazala, mu’tazilah.

Berdasarkan fakta sejarah diketahui bahwa orang yang pertama membina aliran Mu’tazilah adalah Wasil Ibn ‘Ata’. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mas’udi, ia adalah, syaikh al-Mu’tazilah wa qadîmuha, Kepala Mu’tazilah yang pertama. Lahir di Madinah tahun 81 H dan meninggal di tahun 131 H. di Madinah ia belajar pada Abu Hasyim ‘Abdullah Ibn Muhammad Ibn al-Hanafiah, kemudian pindah ke Basrah dan belajar pada Hasan al-Basri.

Selain Wasil, ada lagi dua orang muridnya yang berkompeten dalam pengembangan Mu’tazilah, yaitu masing-masing bernama Bisyr Ibn Sa’id dan Abu ‘Usman al-Za’farani. Dari kedua orang murid inilah dua pemimpin lainnya, Abu al-Huzail al-‘Allaf dan Bisyr Ibn Mu’tamar menerima ajaran-ajaran Wasil. Bisyr sendiri kemudian menjadi pemimpin Mu’tazilah cabang Baghdad.

3.      Ajaran Pokok Penting.

Ajaran-ajaran yang diajukan oleh Mu’tazilah dikenal dengan nama al-Ushul al-Khamsah, yakni:

  1. Paham al-manzilat bain al-manzilatain, posisi di antara dua posisi dalam arti posisi menengah. Menurut ajaran ini, orang yang berdosa besar bukan kafir sebagaimana disebut oleh Khawarij, juga bukan mukmin sebagaimana disebut oleh Murji’ah, tetapi fasiq yang menduduki posisi di antara posisi kafir dan posisi mukmin. Orang ini, jika meninggal dunia tanpa tobat, akan kekal dalam neraka; hanya saja siksaan yang diterimanya lebih ringan dari siksaan yang diterima orang kafir;
  2. Paham qadariah yang dianjurkan oleh Ma’bad dan Ghailan. Tuhan, kata Wasil, bersifat bijaksana dan adil (al-‘adl). Ia tidak dapat berbuat jahat dan lalim. Tidak mungkin Tuhan menghendaki supaya manusia berbuat hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya. Dengan demikian, manusia sendirilah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan baik dan perbuatan jahatnya, iman dan kufurnya, kepatuhan dan ketidakpatuhannya kepada Tuhan. Atas perbuatannya ini, manusia mendapatkan ganjaran dan balasan;
  3. al-Wa’du wa al-Wa’id, janji baik dan ancaman Tuhan. Sebagai konsekwensi dari ajaran ke-2 di atas di mana Tuhan bersifat bijaksana dan adil, maka Ia pun akan memberikan ganjaran pahala kepada mereka berbuat baik dan memberikan balasan siksa bagi mereka yang berbuat jahat. Singkat kata, Tuhan wajib untuk menepati janji dan ancamannya kepada manusia;
  4. Nafy al-sifat, peniadaan sifat-sifat Tuhan dalam arti bahwa apa yang disebut sifat Tuhan sebenarnya bukanlah sifat yang mempunyai wujud tersendiri di luar Zat-Nya, tetapi sifat yang merupakan esensi Tuhan. Bagi kaum Mu’tazilah, ajaran yang terpenting adalah tauhîd atau ke-Maha Esaan Tuhan. Tuhan, dalam paham ini akan betul-betul Maha Esa hanya kalau Dia merupakan suatu zat yang unik, tidak boleh ada yang serupa dengan-Nya. Mereka juga menolak beatific vision, yaitu bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala manusia. Satu-satunya sifat Tuhan yang benar-benar tidak mungkin ada pada makhluk-Nya ialah sifat qadîm. Ajaran ini (tentang nafy al-sifat), disebutkan oleh al-Syahrastani, kemungkinan besar berasal dari Jahm Ibn Safwan, karena Jahm berpendapat bahwa sifat-sifat yang ada pada manusia tidak dapat diberikan kepada Tuhan, karena itu akan membawa kepada anthopomorphism yang disebut dalam Islam dengan al-tajassum atau al-tasybîh. Tetapi berlainan dengan Mu’tazilah, Jahm masih memberi sifat berkuasa, berbuat dan mencipta pada Tuhan. Sebagai seorang yang menganut paham jabariah atau fatalisme, Jahm melihat bahwa Tuhan lah yang berkuasa, berbuat dan mencipta. Manusia tidak punya daya/power apa-apa;
  5. Perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat, dianggap sebagai kewajiban, bukan hanya oleh kaum Mu’tazilah saja, tapi juga bagi semua golongan umat Islam lainnya. Perbedaan yang terdapat antara golongan-golongan tersebut adalah tentang pelaksanaannya. Apakah perintah dan larangan cukup dijalankan dengan paksaan dan kekerasan? Kaum Khawarij, sebagaimana telah dilihat, memandang bahwa untuk itu perlu adanya kekerasan. Sementara kaum Mu’tazilah berpendapat jika hanya dengan seruan sudah cukup, maka cukuplah dengan seruan, tapi jika tidak, maka boleh dengan kekerasan.

Kaum Mu’tazilah, sebagaimana telah disebutkan di bagian pertama, telah tidak mempunyai wujud, kecuali dalam sejarah. Aliran ini masih dipandang sebagai aliran yang menyimpang dari Islam dan dengan demikian tidak disenangi oleh sebagaian umat Islam, terutama di Indonesia. Pandangan demikian timbul karena kaum Mu’tazilah dianggap tidak percaya kepada wahyu dan hanya mengakui kebenaran yang diperoleh dengan perantaraan rasio.

B.     Syi’ah

Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok. Sedangkan secara terminologis, Syi’ah berarti sekelompok kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad saw. atau orang-orang yang disebut sebagai Ahl al-Bait.

Menurut Thabathbai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (Syi’ah Ali), pemimpin pertama Ahl al-Bait pada masa Nabi. Para pengikut Ali yang disebut Syi’ah itu di antaranya adalah Abu Dzar al-Ghiffari, Miqad bin al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.

1.      Sejarah Munculnya Syi’ah

Mengenai kemunculan Syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Montgomerry Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dengan Muawiyah, yang dikenal dengan Perang Siffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali – kelak disebut Syi’ah – dan kelompok lain menolak Ali, kelak disebut Khawarij.

Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khilafah) Nabi saw. Mereka menolak kekhilafatan Abu Bakr, Umar dan Utsman, karena hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak menggantikan Nabi. Kepemimpinan Ali, dalam pandangan Syi’ah, sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan Nabi pada masa hidupnya. Pada awal kenabian, ketika Muhammad diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Diceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Selain itu, sepanjang kenabian Muhammad, Ali merupakan orang yang menunjukkan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.

Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diriwayatkan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau. Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum umat (waliyat al-‘amm), bahkan juga menjadi Ali sebagaimana Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka. Namun, realitas ternyata berbicara lain.

Syi’ah mendapatkan pengikut yang besar, terutama pada masa dinasti Umayyah. Hal ini menurut Abu Zahrah merupakan akibat dari perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terhadap Ahl al-Bait. Di antara bentuk kekerasan itu adalah yang dilakukan penguasa Bani Umayyah saat itu, yakni Yazid bin Mu’awiyah, umpamanya, ia pernah memerintahkan pasukannya yang dipimpin oleh Ibn Ziyad untuk memenggal kepada Husien bin Ali di Karbala. Diceritakan, setelah dipenggal, kepala Husien dibawa ke hadapan Yazid, dan dengan tongkatnya, Yazid memukul kepala cucu Nabi yang saat kecilnya sering dicium oleh Nabi. Kekejaman seperti ini menyebabkan sebagian kaum muslimin bersimpati dan kemudian mengikuti mazhab Syi’ah, atau paling tidak memberikan bela sungkawa terhadap tragedi yang menimpa Ahl al-Bait.

2.       Tokoh-tokoh syi’ah

a.      Syaikh Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Al-Qummi, Al-Qummi dikenal dengan ash Shadûq dan Rais al-Muhadditsîn (w. 381 H)

إعتقادُنا في القرآن أنَّه كلامُ اللهِ و وحيُه و تنزيلُه و قولُهُ و كتابُهُ، و أنه لا يأتيهِ الباطِلُ من بين يديه ولا من خلفه، تنزيلٌ من حكيمٍ عليمٍ ؛ و أنه القصص الحقُّ، و أنه لقولٌ فصلٌ و ما هو بالهزلِ، و أنه تبارك و تعالى محدثُه و منزله و وربُّه و حافظهو المتكلم به.

إعتقادُنا أَنَّ القرآن الذي أنزلَهُ الله على نبينا (صلى الله عليه و آله و سلم) هُو ما بين الدفَّتين، و هو ما بِأَيدي الناس، ليس بِأَكثر من ذلك. و مبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشر سورةو عندنا أنَّ الضحى و ألم نشرح سورة واحدة، و لايلاف و ألم تر كيف سورة واحدة. و من نَسَبَ إلينا أنَّا نقول أنه أكثر من ذلك فهو كاذبٌ….

Terjemahannya :

“Keyakinan kami tentang Al Qur’an bahwa ia adalah Kalam Allah, wahyu,firman dan kitab suci-Nya. Dan ia tidak sediktipun didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun belakang. Ia adalah diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Ia (Al QUr’an) adalah kisah-kisah yang haq, ia adalah ucapan pelerai, bukan sendau gurau. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi yang menfirmankan, menurunkan, memelihara dan berbicara dengannya.

Keyakinan kami bahwa Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya; Muhammad saw. adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mush-haf), yaitu yang sekarang beredar di kalangan manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah. Dan menurut kami surah Wa adh Dhuhâ dan Alam Nasyrah dihitung satu surah dan surah Li ilâfi dan Alam Tara Kaifa dihitung satu surah.

Dan barang siapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini bahwa Al Qur’an lebih dari itu maka ia adalah pembohong!

(al I’tiqâdât:93, dicetak dipinggir kitab al Bâb al Hâdi ‘Asyar)

Syeikh Mufid (w.413 H):

وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة، و لكن حُذِفَ ما كان مثبَتًا في مصحف أمير المؤمنين (عليه السلام) من تَأويليه، و تفسير معانيه على حقيقة تنزيله، و ذلك كان ثابتًا مُنَزَّلاً و إنْ لِمْ يكن من جملةِ كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجِز. و عندي أنَّ هذا أشبهُ من مقال من ادَّعى نُقْصان كلِمٍ من نفسِ القرآن على الحقيقة دون التأويل، إليه أميلٌ، و الله أسأل توفيقه للصواب.

“Telah berkata sekelompok Ahli imamah (Syi’ah): bahwa Al Qur’an tidak berkurang walaupun hanya satu kata, atau satu ayat atau satu surah, akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang tetap dalam mush-haf Amirul Mukminin (Ali) as. berupa ta’wîl dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat tanzîlnya. Yang demikian (ta’wîl dan tafsir) adalah tetap, terbukti telah diturunkan (Allah) walaupun ini bukan dari bagian firman Allah sebagai Al Qur’an yang mu’jiz (mu’jizat). Dan menurut saya pendapat ini lebih tepat dari pada pendapat orang yang menganggap adanya pengurangan beberapa firman dari Al Qur’an itu sendiri bukan ta’wîl nya. Dan saya cenderung kepada pendapat ini. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (Awâil al Maqâlât fî al Madzâhib al Mukhtârât: 55-56).

 Asy Syarif Al Murtadha (w.436 H):

Dalam bukunya berjudul Al-Masaail Al-Tharablusiyyaat, Al-Murtadha mengatakan, seperti dikutip penulis buku Majma’ Al-Bayân dikatakan:

…أنَّ العلمَ بصحة نقلِ القرآن كالعلم بالبلدتن و الحوادث الكبار و الوقائع العظام و الكتب المشهورة و أشعار العرب المسطورة، فإنََّ العناية اشتدَّت و الدواعي توفَّرت على نقلِهِ و حراسته، و بلغت إلى حدٍّ لِمْ يبلغْه فيما ذكرنا. لأنَّ معجزة النبوة و مأخذ العلوم الشرعية و الأحكام الدينية و علماء المسلمين قد بلغوا في حفظه و حمايته الغاية حتى عرفوا كل شيئ اختلف فيه من إعرابه و قراءته و حروفه و آياته، فكيف يجوز أن يكون مغيرا أو منقوصا مع العناية الصادقة و الضبط الشديد أن القرآن كان على عهد رسولِ اللهِ (ص) مجموعًا مُؤلَّفًا على ما هو عليه الآن… و أنَّ جماعةً من الصحابة مثل عبد الله بن مسعود و أبي بن كعب و غيرهمت قد ختموا القرآن على النبي (ص) عدّة ختمات ، و كل ذلك يدل بأدنى تأمل على أنه كان مجموعًا مرتَّبًا غير مبتورٍ ولا مبثوثٍ…

و أن من خالف من الإمامية الحشوية لا يُعْتَدُّ بخلافهم، فإن الخلاف مضافٌ إلى قومٍ من أصحابِ الحديث نقلوا أخبارًا ضعيفَةً ظنوا صحتها لا يُرجع بمثلها عن المعلوم المقطوع على صحتِهِ.

“Bahwa kadar kepastian akan penukilan Al Qur’an adalah seperti kepastian ilmu bumi dan kejadian-kejadian besar dalam sejarah. Begitu basar perhatian yang telah dicurahkan demi kelestarian dan keutuhannya. Seluruh faktor telah berkumpul menjadi sempurna dan menyatu mendukung terjaganya Al-Quran dari segala macam penyelewengan dengan pengawasan yang ketat. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang dijaga dengan rapi, seperti Al-Quran. Sebab Al-Quran adalah mukjizat kenabian Muhammad saw, sumber segala ilmu dan hukum utama syariat agama (Islam). Para ulama muslimin sendiri telah bersungguh-sungguh dalam menjaga dan melestarikannya sehingga mencapai puncaknya, sampai-sampai mereka mengetahui segala sesuatu yang diperselisihkan di dalamnya untuk diteliti tentang i’rab, nada, cara membacanya, jumlah huruf-huruf dan ayat-ayatnyanya.”

3.      Ajaran Pokok Penting.

Ajaran-ajaran pokok syi’ah yakni:

Al-Tauhid

Kaum syi’ah mengimani sepenuhnya bahwa Allah itu ada, Maha Esa, tunggal, tempat bergantung segala mahluk, tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak seorangpun serupa dengan-Nya. Keyakinan seperti ini tidak berbeda dengan akidah kaum muslimin pada umumnya.

Al’-Adl

Kaum syi’ah mempunyai keyakinan bahwa Allah maha adil. Allah tidak melakukan perbuatan zalim dan perbuatan buruk seperti berdusta dan memberikan beban yang tak dapat di pikul manusia. Allah juga bersih dari segala aib, cacat, dan cela. Ia tidak melakukan sesuatu kecuali atas dasar hikmah dan untuk kemaslahatan (kebaikan) umat manusia. Ia tidak melakukan yang buruk karena ia melarang keburukan, mencela kezaliman dan orang yang berbuat zalim, dan Ia membersihkan diri-Nya dari hal-hal yang buruk dan zalim itu sebagaimana ditegaskan didalam ayat-ayat-Nya.

Konsep keadilan tuhan yang dikemukakan syi’ah ini nampaknya sejalan dengan pendapat Mu’tazilah. Menurut mu’tazilah, Tuhan adil mengandung arti bahwa Tuhan selalu melakukan perbuatan yang baik dan tidak melakukan apapun  yang buruk. Tuhan juga tidak meninggalkan sesuatu yang wajib dikerjakan-Nya. Apabila ada kejadian yang terjadi dialam ini yang nampaknya seperti tidak baik, tentu dibalik kejadian tersebut ada hikmah yang baik pula. Yang dimaksud dengan peristiwa alam yang nampak tidak baik itu adalah seperti banjir, angin topan dan gempa bumi.

Al-Nubuwwah

Kepercayaan syi’ah terhadap keberadaan Nabi-Nabi juga tidak berbeda dengan kaum muslimin yang lain. Menurut mereka, Allah mengutus sejumlah nabi dan rasul kemuka bumi untuk membimbing umat manusia. Rasul-rasul itu memberikan kabar gembira (mubasysyrin) bagi orang yang mentauhidkan Allah dan melakukan amal shaleh dan kabar siksa/ancaman (mundzirin) bagi orang yang mengingkari Allah dan durhaka.

Al-Imamah.

Imamah merupakan masalah yang penting bagi kaum syi’ah. Bagi mereka, imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus. Ia pengganti Rasul dalam memelihara syari’at, melaksanakan hudud (had/hukuman terhadap pelanggaran hukum Allah), dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman umat.

Al-Ma’ad

Secara harfiah al-Ma’ad berarti tempat kembali. Yang dimaksudkan disini ialah hari akhirat. Kaum syi’ah percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat, bahwa hari akhir itu pasti terjadi.

Menurut keyakinan mereka, manusia kelak akan dibangkitkan, jasadnya secara keseluruhan dikembalikan keasalnya baik daging, tulang maupun rohnya. Pada hari kiamat nanti, manusia itu akan menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukannya didunia. Semua perbuatannya akan diperhitungkan, besar, kecil, nampak, maupun tersembunyi pada hari akhirat itu pula Tuhan akan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik dan taat kepadan-Nya karena ketaatannya itu, dan menyiksa orang yang maksiat karena kemaksiatanya.

About lynxdeby
I'am a university student in STAIN Palangka Raya in English Departement, interested in global netting and computerization.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s